Budaya Kendaraan Berhenti untuk Pejalan di Jepang

Salah satu pengalaman yang paling sering diceritakan wisatawan setelah berkunjung ke Jepang adalah bagaimana kendaraan dengan sukarela berhenti untuk memberikan jalan kepada pejalan kaki di zebra cross. Banyak orang yang awalnya ragu untuk menyeberang justru dibuat terkejut karena mobil sudah terlebih dahulu berhenti dan mempersilahkan mereka untuk lewat.

Meskipun tidak semua pengemudi selalu melakukan hal tersebut, tingkat kepatuhan pengendara di Jepang terhadap hak pejalan kaki memang tergolong tinggi. Budaya ini merupakan perpaduan antara aturan hukum, pendidikan, dan kesadaran masyarakat dalam menjaga ketertiban di jalan.

1. Aturan hukum yang tegas

Salah satu alasan utama di balik budaya ini adalah adanya aturan lalu lintas yang jelas. Di Jepang, pengemudi wajib memberikan prioritas kepada pejalan kaki yang sedang atau akan menyeberang di zebra cross yang tidak dikendalikan lampu lalu lintas. Jika pengemudi mengabaikan aturan tersebut, mereka dapat dikenai denda serta poin pelanggaran pada Surat Izin Mengemudi (SIM). Karena aturan ini ditegakkan dengan cukup serius, banyak pengemudi memilih berhenti terlebih dahulu demi keselamatan pejalan kaki.

2. Pendidikan mengemudi yang ketat

Mendapatkan SIM di Jepang bukanlah hal yang mudah. Calon pengemudi harus mengikuti pelatihan serta ujian yang cukup ketat sebelum diizinkan mengemudi di jalan raya. Salah satu materi yang selalu ditekankan adalah kewajiban menghentikan kendaraan ketika ada pejalan kaki yang ingin menyeberang. Kebiasaan tersebut akhirnya terbawa hingga menjadi bagian dari budaya berkendara sehari-hari.

3. Menghormati orang lain sudah menjadi kebiasaan

Selain karena aturan, masyarakat Jepang juga dikenal memiliki budaya saling menghormati. Memberikan kesempatan kepada pejalan kaki untuk menyeberang dianggap sebagai bentuk kepedulian dan rasa hormat terhadap orang lain. Sebaliknya, mengabaikan pejalan kaki dapat dipandang sebagai perilaku yang kurang sopan dan tidak bertanggung jawab. Nilai saling menghargai inilah yang turut membentuk budaya lalu lintas yang lebih tertib.

4. Pejalan kaki juga mematuhi aturan

Budaya ini tidak hanya bergantung pada pengemudi. Pejalan kaki di Jepang juga memiliki kedisiplinan yang tinggi, seperti:

  • Menunggu di tepi zebra cross sebelum menyeberang.
  • Tidak menyeberang sembarangan di luar area yang telah disediakan.
  • Mematuhi lampu lalu lintas meskipun jalan sedang sepi.

Karena kedua pihak sama-sama mengikuti aturan, lalu lintas menjadi lebih aman dan tertib.

5. Kebiasaan saling mengucapkan terima kasih

Hal menarik lainnya adalah kebiasaan saling menghargai setelah proses menyeberang selesai. Ketika kendaraan berhenti, banyak pejalan kaki Jepang akan sedikit membungkukkan badan atau menganggukkan kepala sebagai tanda terima kasih. Pengemudi pun sering membalas dengan anggukan kecil atau lambaian tangan. Meskipun terlihat sederhana, kebiasaan ini mencerminkan budaya saling menghormati yang masih kuat di Jepang.

6. Apakah Semua Pengemudi Jepang Selalu Berhenti?

Jawabannya adalah tidak selalu. Sebuah survei yang dilakukan oleh Japan Automobile Federation (JAF) menunjukkan bahwa masih ada pengemudi yang tidak memberikan prioritas kepada pejalan kaki di zebra cross. Artinya, Jepang juga masih menghadapi tantangan dalam meningkatkan kepatuhan pengendara. Namun demikian, dibandingkan dengan banyak negara lain, tingkat kepatuhan pengemudi di Jepang terhadap hak pejalan kaki tetap tergolong tinggi. Inilah yang membuat banyak wisatawan merasa lebih aman dan nyaman saat berjalan kaki di Jepang.

7. Pengalaman yang sering dialami wisatawan

Banyak wisatawan mengaku sempat bingung ketika pertama kali hendak menyeberang jalan di Jepang. Karena terbiasa kendaraan terus melaju, mereka cenderung menunggu cukup lama di tepi jalan. Sebaliknya, pengemudi di Jepang sering kali sudah menghentikan kendaraan dan menunggu hingga pejalan kaki selesai menyeberang. Pengalaman sederhana ini menjadi salah satu hal yang paling berkesan bagi banyak orang yang berkunjung ke Jepang.

 

Sumber: SoraNews24, Japan Automobile Federation (JAF).