Belakangan ini, banyak video di media sosial yang memperlihatkan rumah-rumah di Jepang dijual dengan harga sangat murah, bahkan ada yang hanya puluhan juta rupiah. Hal ini membuat banyak orang bertanya-tanya, mengapa rumah di Jepang bisa semurah itu?
Ternyata, fenomena ini bukan berarti seluruh rumah di Jepang memiliki harga murah. Ada berbagai faktor yang menyebabkan sebagian rumah dijual dengan harga rendah, bahkan ada yang diberikan secara cuma-cuma.
1. Fenomena Akiya, Jutaan Rumah Kosong di Jepang
Rumah murah di Jepang umumnya merupakan akiya (空き家), yaitu rumah yang sudah lama kosong dan tidak dihuni.
Menurut pemerintah Jepang, jumlah rumah kosong terus meningkat akibat penurunan jumlah penduduk, rendahnya angka kelahiran, serta banyaknya masyarakat yang memilih pindah ke kota-kota besar seperti Tokyo dan Osaka. Akibatnya, banyak rumah di daerah pedesaan atau kota kecil tidak lagi memiliki penghuni. Karena tidak ada yang merawat atau membeli, pemilik akhirnya menjual rumah tersebut dengan harga yang sangat rendah agar tidak terus menanggung biaya perawatan dan pajak.
2. Mengapa Harganya Bisa Sangat Murah?
Ada beberapa alasan mengapa rumah-rumah tersebut dijual dengan harga rendah.
- Populasi Jepang terus menurun
Jepang menghadapi penurunan populasi selama bertahun-tahun. Semakin sedikit penduduk berarti semakin sedikit pula permintaan terhadap rumah, terutama di daerah yang jauh dari pusat kota. Akibatnya, jumlah rumah yang kosong terus bertambah setiap tahunnya.
- Lokasinya jauh dari kota besar
Sebagian besar rumah murah berada di desa atau kota kecil yang mengalami penurunan jumlah penduduk. Lokasi yang jauh dari pusat bisnis membuat minat pembeli menjadi lebih rendah. Berbeda dengan rumah di Tokyo, Osaka, atau Yokohama yang harganya tetap tinggi karena permintaannya masih besar.
- Usia bangunan sudah tua
Di Jepang, nilai sebuah rumah cenderung menurun seiring bertambahnya usia bangunan. Banyak orang Jepang lebih memilih membangun rumah baru dibandingkan membeli rumah bekas. Akibatnya, rumah yang berusia puluhan tahun sering kali memiliki nilai jual yang sangat rendah meskipun kondisi tanahnya masih bernilai.
- Membutuhkan Renovasi
Banyak rumah murah dijual dalam kondisi kosong selama bertahun-tahun sehingga memerlukan biaya renovasi yang tidak sedikit. Calon pembeli biasanya harus memperbaiki atap, lantai, instalasi listrik, pipa air, hingga struktur bangunan sebelum rumah bisa dihuni dengan nyaman.
3. Tidak selalu mudah untuk dibeli
Meskipun harganya murah, membeli rumah di Jepang tidak selalu semudah yang dibayangkan. Beberapa rumah memiliki syarat tertentu, seperti:
- Pembeli diharapkan benar-benar tinggal di rumah tersebut.
- Beberapa daerah mengutamakan pembeli yang ingin menetap dan membantu menghidupkan kembali komunitas setempat.
- Ada rumah yang memiliki status kepemilikan bersama sehingga proses jual belinya lebih rumit.
- Pembeli tetap harus menanggung biaya pajak, administrasi, dan renovasi.
Karena itu, harga beli yang murah belum tentu berarti biaya keseluruhannya juga murah.
4. Mengapa pemerintah tidak membiarkannya kosong?
Rumah kosong yang dibiarkan terlalu lama dapat menimbulkan berbagai masalah, mulai dari kerusakan bangunan, tumbuhnya tanaman liar, hingga membahayakan lingkungan sekitar. Untuk mengatasi hal tersebut, banyak pemerintah daerah di Jepang membuat Akiya Bank, yaitu situs yang mempertemukan pemilik rumah kosong dengan calon pembeli. Melalui program ini, beberapa rumah bahkan ditawarkan dengan harga yang sangat rendah agar kembali ditempati.
“Jadi, apakah semua rumah di Jepang murah?”
Jawabannya tidak. Rumah di kota-kota besar seperti Tokyo, Osaka, Kyoto, atau Yokohama tetap memiliki harga yang tinggi karena permintaannya masih besar. Rumah murah yang sering viral di internet umumnya berada di daerah dengan jumlah penduduk yang terus berkurang atau merupakan bangunan tua yang membutuhkan perbaikan. Karena itu, sebelum tergiur dengan harga murah, calon pembeli perlu memahami kondisi rumah, lokasi, biaya renovasi, serta aturan yang berlaku.
Sumber: CNN, CNBC, Tribunnews.



